Kamis, 02 Mei 2013

SEJARAH – KEHIDUPAN AWAL MASYARAKAT INDONESIA KEHIDUPAN AWAL MASYARAKAT INDONESIA

A. Kehidupan Masyarakat Berburu dan Mengumpulkan Makanan 1.Lingkungan Alam Kehidupan Kehidupan masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan ini sangatlah sederhana. Kehidupan mereka tak ubah seperti kelompok hewan karena bergantung pada apa yang disediakan oleh alam. Pada masa ini manusia hidup di alam bebas seperti di hutan, tepi-tepi sungai, goa, dan lembah. Keadaan berburu mereka pun masih belum stabil dan sangat liar. Pada masa ini, mereka cenderung berjalan menyusuri tepi-tepi pantai dan pada masa selanjutnyalah baru mereka menciptakan perahu. 2. Kehidupan Sosial Masyarakat pada masa berburu dan mengumpulkan makanan telah mengenal kehidupan kelompok. Jumlah anggota dalam setiap kelompok sekitar 10-15 orang. Mereka selalu hidup berpindah-pindah. Hubungan antar anggota kelompok sangatlah erat. Mereka bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan hidup serta mempertahankan hidup mereka. Masing-masing kelompok memiliki pemimpin dan mereka menghormati pemimpin mereka masing-masing . 3. Kehidupan Budaya Pada masa ini mereka mulai membuat alat-alat berburu, alat pemotong, alat pengeruk tanah dan lainnya. Para ahli menafsirkan pembuat alat tersebut ialah jenis manusia Pithecanthropus dan kebudayaannya disebut tradisi Paleolitikum (batu tua). Banyak di temukan di kali basoka, daerah Kabupaten Pacitan . Penelitian ini di lakukan oleh H.R van Heekeren, Besuki, dan R.P. Soejono (1953- 1954).Adapun benda-benda hasil kebudayan zaman tersebut ialah: oKapak Perimbas oKapak Penetak oKapak Genggam oPahat Genggam oAlat serpih oAlat-alat dari tulang 4. Kehidupan Ekonomi Pada masa mengumpulkan makanan ini, mereka bekerja sama dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan anggota kelompok yang masih sedikit mereka dapat dengan mudah memenuhi sebagian besar kebutuhan hidupnya dari alam bebas, saat persedian hutan habis mereka pindah ke daerah lainnya untuk menemukan kebutuhan-kebutuhan mereka. 5. Kehidupan Kepercayaan Masyarakat Pada masa ini mereka sudah memiliki anggapan tertentu dan memberikan penghormatan terakhir kepada orang yang meninggal dengan sisteam penguburan dan mereka sudah mempergunakan akal pikiran mereka walaupun hanya terbatas hal-hal tertentu saja. Dengan penguburan terhadap orang yang baru meninggal maka konsep kepercayaan tentang adanya hubungan antara orang yang sudah meninggal dan yang masih hidup sudah di yakini. B. Kehidupan Masyarakat Beternak dan Bercocok Tanam 1.Lingkungan Alam Kehidupan Kehidupan bercocok tanam yang pertama kali dikenal oleh manusia adalah berhuma. Berhuma adalah teknik bercocok tanam dengan cara membersihkan hutan dan menanamnya, setelah tanah tidak subur mereka pindah dan mencari bagian hutan yang lain. Kemudian mereka mengulang pekerjaan membuka hutan, demikian seterusnya. Namun dalam perkembangan berikutnya, manusia mulai memikirkan kembali untuk hidup dari generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu, manusia mulai menerapkan kehidupan bercocok tanam pada tanah- tanah persawahan. Kehidupan menetap yang dipilih manusia pada masa lampau itu merupakan titik awal dari perkembangan kehidupan manusia untuk mencapai kemajuan. 2. Kehidupan Sosial Kehidupan masyarakat pada masa bercocok tanam mengalami peningkatan yang cukup pesat. Masyarakat mulai mempunyai tempat tinggal tetap. Tempat tinggal tetap untuk mempererat hubugan antar manusia, yang menunjukkan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Kehidupan sosial yang dilakukan oleh masyarakat pada masa bercocok tanam ini terlihat dengan jelas melalui cara bekerja dengan bergotong royong. Cara hidup bergotong royong itu bersifat agraris. 3. Kehidupan Ekonomi Pada masa kehidupan bercocok tanam, kebutuhan kehidupan masyarakat semakin bertambah, namun tidak ada anggota masyarakat yang dapat memenuhi kehidupannya sendiri. Dengan kenyataan seperti ini, dalam rangka memenuhi kebutuhannya masing-masing diadakan pertukaran barang dengan barang yang disebut sistem barter. Sistem barter ini menjadi awal munculnya perdagangan atau sistem perekonomian masyarakat. Untuk memperlancar kegiatan tersebut dibutuhkan tempat khusus yang dapat dijadikan sebagai tempat pertemuan antara penjual dan pembeli yang disebut pasar. 4. Sistem Kepercayaan Masyarakat ž Pada masa kehidupan bercocok tanam kepercayaan masyarakat semakin bertambah. Mereka percaya bahwam orang-orang yang meninggal rohnya pergi ke suatu tempat yang tidak jauh dari tempat tinggalnya atau tetap berada di wilayah di sekitar tempat tinggalnya sehingga sewaktu-waktu dapat dipanggil untuk dimintai bantuannya dalam kasus seperti menanggulangi wabah penyakit atau mengusir pasukan-pasukan musuh yang ingin menyerang tempat tinggalnya. Di Indonesia, kepercayaan dan pemujaan kepada roh nenek moyang terlihat melalui peninggalan-peninggalan tugu-tugu batu atau bangunan-bangunan mengalithikum. Bangunan-bangunan itu banyak ditemukan di tempat-tempat tinggi dari daerah sekitarnya sehingga muncul anggapan masyarakat bahwa roh-roh tersebut berada di tempat yang lebih tinggi. 5. Kehidupan Budaya žPada masa kehidupan bercocok tanam kebudayaan yang dihasilkan semakin beragam seperti yang terbuat dari tanah liat, batu, dan tulang. Contohnya: 1.Beliung Persegi diduga digunakan untuk upacara. Ditemukan di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Semenanjung Melayu dan Asia Tenggara. 2. Kapak Lonjong Kapak ini ditemukan di daerah Maluku, Papua, sebagian Sulawesi Utara, Kepulauan Filipina, Taiwan dan Cina. 3. Mata Panah Digunakan untuk berburu dan menangkap ikan. Ditemukan di daerah Papua. 4. Gerabah Digunakan sebagai tempat untuk menyimpan benda-benda perhiasan dan sebagai alat untuk mencurahkan rasa seni. Ditemukan di seluruh wilayah Indonesia. 6. Perhiasan Pada masa bercocok tanam kebudayan, telah dikenal berbagai bentuk perhiasan. Bahan dasarnya berasal dari lingkungan alam sekitar tempat tinggal mereka yaitu seperti tanah liat, batu kalsedon, yaspur dan agat. Perhiasaan yang dihasilkan seperti kalung, gelang dan lain-lain. Disamping perhiasan tersebut juga ditemukan kebudayaan yang terbuat dari batu besar atau Megalitikum pada masa kehidupan masyarakat bercocok tanam. Kebudayaan megalitikum erat kaitannya dengan kegiatan religius, yaitu kepercayaan terhadap nenek moyang. Bangunan ini dibuat berdasarkan adanya kepercayaan hubungan antara alam fana dan alam baka. Contoh Bangunan Pada Masa Megalitikum ž Menhir, adalah tugu batu tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang, ditemukan di daerah Sumatera, Sulawesi Tengah dan Kalimantan. ž Waruga, adalah kubur batu yang berbentuk kubus atau bulat yang dibuat dari batu utuh. Ditemukan di daerah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara. ž Dolmen, adalah meja batu tempat meletakkan sesaji yang dipersembahkan kepada roh nenek moyang. Di bawah dolmen biasanya sering ditemukan kubur batu. Ditemukan di Telagamukmin, Sumberjaya, Lampung Barat. ž Punden berundak-undak, adalah bangunan suci tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang yang dibuat bertingkat-tingkat. Ditemukan di daerah Lebak Si Beduk daerah Banten Selatan. ž Sarkofagus, adalah peti jenazah yang terbuat dari batu bulat (batu tunggal). Banyak ditemukan di Bali. ž Kubur batu, adalahb peti jenazah terbuat dari batu pipih. Banyak ditemukan di daerah Kuningan, Jawa Barat. ž Arca, arca dari masa megalitikum menggambarkan kehidupan binatang dan manusia. Banyak ditemukan di Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah dan Jawa Timur. C. Perkembangan Teknologi Masyarakat Awal Indonesia 1.Keadaan Alam Lingkungan Kehidupan Manusia Dalam kehidupan menetap manusia sudah dapat menghasilkan kebutuhannya sendiri, meskipun tidak seluruhnya. Pengenalan teknologi pada masa itu terlihat jelas pada teknik pembuatan tempat tinggal atau peralatan-peralatan yang mereka gunakan untuk membantu upaya memenuhi kebutuhan hidupnya. Ketika manusia mulai mengenal logam, manusia telah dapat menggunakan peralatan yang terbuat dari logam, seperti peralatan rumah tangga, pertanian, berburu, berkebun, dll. Tetapi dengan meluasnya penggunaan peralatan yang terbuat dari logam, peralatan tersebut dibuat oleh orang yang ahli dibidangnya yang disebut undagi dan tempat pembuatan alat tersebut disebut perundagian. Dalam perkembangan teknologi awal ini, masyarakat Indonesia juga mulai mengenal benda-benda yang terbuat dari logam dan perunggu. Hal ini terbukti karena ditemukannya benda-benda dari perunggu di beberapa wilayah di Indonesia. Dapat disimpulkan bahwa seiring dengan mulai dikenalnya logam, pola pikir dan teknologi manusia berkembang. 2. Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Masa perundagian adalah masa manusia telah mengenal logam. Masa perundagian sangat penting artinya dalam perkembangan sejarah Indonesia, karena pada masa ini terjalin hubungan dengan daerah-daerah disekitar Indonesia. Hubungan ini terjadi karena bahan-bahan dari logam yang tersedia menyebar di tempat- tempat tertentu dan untuk mendapatkannya dilakukan sistem barter. Pada masa ini juga menjadi dasar bertumbuh kembangnya kerajaan-kerajaan di Indonesia peninggalan-peninggalan masa perundagian menunjukkan kekayaan dan keanekaragaman budaya Indonesia. Kemakmuran masyarakat diketahui melalui perkembangan teknik pertanian. Masyarakat persawahan terus berkembang dengan pesat termasuk pada aktivitas ekonominya. 3. Kehidupan Budaya Masyarakat Benda-benda peninggalan bangsa Indonesia yang terbuat dari logam diantaranya: 1.Nekara Perunggu Fungsinya sebagai pelengkap upacara untuk memohon turunnya, hujan dan sebagai genderang perang. Banyak ditemukan di daerah timur Indonesia. 2. Kapak Perunggu Ada yang berbentuk pahat, jantung atau tembilang. 3. Bejana Perunggu Bentuknya mirip gitar spanyol tanpa tangkai. Ditemukan di daerah Madura dan Sumatera 4. Arca Perunggu Ditemukan di daerah Bangkinang, Riau, Lumajang, Bogor dan Palembang. 5. Perhiasan Ditemukan di daerah Bogor, Bali, Malang. D. Sistem Kepercayaan Awal Masyarakat Indonesia 1.Kepercayaan Terhadap Roh Nenek Moyang Perkembangan sistem kepercayaan pada masyarakat Indonesia berawal dari kehidupan masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan. Pada umunya mereka hidup berpindah-pindah. Namun, dalam perkembangannya mereka mulai menetap, menetap di goa-goa yang di tepi pantai atau di pedalaman. Orang mulai memiliki pandangan bahwa hidup tidak berhenti setelah orang meninggal. Orang yang meninggal dianggap pergi ke suatu tempat yang lebih baik. Inti kepercayaan terhadap roh nenek moyang terus berkembang dari zaman-zaman. 2. Kepercayaan Bersifat Animisme Animisme merupakan kepercayaan masyarakat terhadap benda yang dianggap memiliki roh atau jiwa. Awal munculnya kepercayaan ini didasari dari berbagai pengalaman masyarakat yang bersangkutan. Di samping itu muncul kepercayaan terhadap benda-benda pusaka yang dipandang memiliki roh yang dianggap dapat memberi petunjuk tentang berbagai hal yang berkembang dalam masyarakat. Contohnya sebilah keris yang dianggap pusaka. Kepercayaan seperti ini masih berkembang hingga sekarang. 3. Kepercayaan Bersifat Dinamisme Dinamisme adalah kepercayaan bahwa setiap benda memilki kekuatan gaib. Contohnya batu cincin dipandang mempuyai kekuatan untuk melemahkan lawan. 4. Kepercayaan Bersifat Monoisme Monoisme adalah kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Kepercayaan ini muncul berdasarkan pengalaman-pengalaman dari masyarakat. . Selamat membaca sobat..... thanks

Tidak ada komentar: